AHMAD JUNAEDI
MENUNGGU - Salah satu PSK di Kebon Suwung (KBS)Desa Podosari Kecamatan Karanganyar tengah menunggu pelanggan yang dirasakan kian sepi.
Segelintir Carita PSK di Lokalisasi Kebonsuwung
PENGGALAN syair lagu kupu-kupu malam karya Titik Puspa menjadikan sebuah nyawa kehidupan yang menceritakan kerasnya hidup sebagai penjaja cinta.
Berbagai persoalan yang menghimpit kaum hawa, sehingga terjerumus menjadi penjaja sex, yang dituntut memuasklan nafsu sihidung belang, sampai kisah trauma yang dialami PSK lantaran terjaring razia, seperti apa?
Lokalisasi Kebon Suwung, nama itu lebih akrab disebut, yang terletak sekitar 3 km dari arah SPBU Karanganyar menuju kerah selatan, yang merupakan sebuah tempat yang semula hanyalah areal tanaman tebu, yang saat ini telah berdiri puluhan cafe yang menjajakan kenikmatan sesaat.
Salah satu rumah non permanen, yang hanya berdindingkan papan kayu menjadi tempat transaksi mesum, yang menyediakan beberapa jenis minuman alkohol bagi pelanggannya.
Sementara sarana TV dengan ukuran jumbo dan VCD merupakan sarana wajib sebagai pelengkap musik yang akan mengiringi terangnya ruangan di tengah perkampungan khusus tersebut.
Sebut saja Bunga (21), salah satu penjaja saat ditemui Radar Rabu (27/7) mengaku baru menghuni wisma tersebut 4 bulan terakhir, lantaran ditinggal suami yang kepincut Wanita Idaman Lain (WIL). "Saya disini baru empat bulan," ucap perempuan warga Kecamatan Doro ini.
Menurutnya, kisah pahit rumah tangganya yang telah karam, menjadikan pemicu masuknya dirinya kedalam lembah hitam dunia penjaja nikmat sesaat.
"Saya sempat mau mau bunuh diri, karena suami saya orang Banyuwangi, yang merupakan supir buah telah meninggalkan saya," ucapnya.
Perasaan kalut dan ajakan seorang teman, sehingga menghantarkan Bunga ke tempat mesum tersebut. Pengalaman yang paling mengerikan, kata dia yaitu ketika sebulan lalu dirinya tertangkap dalam razia kepolisian, yang membawanya hingga harus bermalam dibalik jeruji besi di Polres Kajen.
"Waktu itu sekitar habis masghrib, saya masih tertidur lelap karena habis dipijat badannya, tiba-tiba anggota polisi telah masuk ke dalam rumah ini dalam operasi gabungan," ucapnya.
Menurutnya, pengalamannya tersebut hingga kini masih menjadi rasa ketakutan yang berkepanjangan, sehingga bila mendengar suara mobil yang berparkir di depan wisma, tangan dan badan selalu terasa gemetar.
"Kalau ada suara mobil saya takut mas, pasti mikirnya ada garukan, mendingan kabur ngumpet di sungai mungkin dari pada berurusan hukum lagi," ucap gadis yang tidak lulus SMA yang bercita-cita akan membuka sebuah salon ini.
Dikatakan bunga, rupanya dalam sebuah musibah pasti ada berkah. Sebabnya, dengan penggarukan yang menimpanya, selang beberapa hari usai sidang Tipiring, dirinya dibooking oleh seorang polisi yang kemudian membayarnya dengan uang yang cukup banyak, lantaran telah mengetahui nomor Hp nya.
Bookingan keluar cafe, lanjutnya, biasanya jarang dilakukan, hal ini menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan, seperti aksi kekerasan maupun pelanggan yang tidak membayar.
"Saya lebih sering disini (cafe, red), ya kalau keluar pasti dengan pelanggan yang sering datang itupun ngasih ces sama mami Rp 50 ribu, sedangkan tarif shortime nya Rp 100 ribu, tinggal dikalikan saja kalu mau bokinhg keular, kalau 3 jam ya Rp 300 ribu," pungkasnya, sambil menceritakan cita-cita yang akan mengumpulkan uang agar cukup untuk membuka salon, yang mengatakan kalau menuruti kepuasan tidak ada habisnya." (*)