MOTTO 'Indonesia Bebas Pemadaman Listrik' jangan diartikan lampu akan menyala terus-menerus. Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, mengingatkan kepada masyarakat bahwa masih ada kemungkinan listrik padam karena hal-hal teknis.
"Padam itu bisa terjadi misalnya karena banjir, penggalian, serta gangguan teknis lain," kata Hatta di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Rabu (28/7).
Ini seperti diberitakan laman Vivanews.com semalam. Pernyataan Hatta ini menjawab beberapa kali kejadian pemadaman listrik, usai pencanangan 'Indonesia Bebas Pemadaman' di Mataram kemarin. Kejadian lampu padam masih terjadi di daerah Depok dan Bogor.
Menurut dia, pencanangan Indonesia bebas pemadaman listrik yang dilakukan kemarin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dimaksudkan bahwa suplai listrik dari sisi pembangkit sudah mencukupi.
"Jadi, gangguan pemadaman listrik karena alasan ketersediaan power supply-nya sudah tidak ada lagi," kata Hatta.
Pemenuhan kebutuhan listrik dianggap mencukupi untuk persediaan konsumsi listrik terpasang. Sedangkan untuk jumlah aliran listrik yang dinikmati oleh masyarakat, tetap saja Indonesia masih ada yang kekurangan.
"Masyarakat memang masih ada sebagian yang belum menikmati listrik, karena rasio elektrifikasi belum 100 persen, ini yang ikut dikejar," ujar Hatta.
PEKANBARU
Sementara, seperti dilansir JPNN.com, Direktur Utama PLN Dahlan Iskan menyebutkan bahwa pemadaman aliran listrik yang terjadi di Pekanbaru, Riau berlangsung pada Rabu (28/7) sejak pagi hingga siang hari.
Pemadaman itu terpaksa dilakukan untuk pemeliharaan rutin trafo induk Garuda Sakti yang dilakukan dan bukan karena terjadi krisis listrik atau kelalaian petugas di lapangan.
Dijelaskan Dahlan, pemeliharaan gardu induk ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilakukan oleh PT PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) wilayah Sumatera. "Ada pemeliharaan trafo gardu induk Garuda Sakti. Kegiatan ini merupakan pemeliharaan rutin tahunan oleh PLN P3B Sumatera. Direncanakan dari jam 08.00 WIB sampai jam 14.00 WIB," kata Dahlan Iskan kepada JPNN, Rabu (28/7) siang.
Saat terjadi pemadaman, beban yang ditanggung tercatat sekitar 30 MW berasal dari 7 penyulang sebesar 20 Kv. Pemadaman kali ini, memang membutuhkan waktu yang cukup lama karena ada beberapa komponen trafo gardu induk yang membutuhkan pemeliharaan.
"Pemeliharaannya meliputi antara lain pemeriksaan minyak trafo, sisi 150 KV (CT, CB), sisi 20 KV (kubikel) dan sistem proteksinya," jelas Dahlan.
Terkait pemadaman kali ini, dikatakan Dahlan bahwa pihak PLN sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat akibat ketidaknyamanan mati listrik. Namun hal tersebut sebelumnya telah disampaikan PLN dalam iklan layanan masyarakat yang dipublikasikan melalui beberapa media massa di Pekanbaru.
"PLN di Wilayah Riau sudah mengumumkan rencana pemeliharaan tersebut melalui media massa setempat," kata Dahlan.
Pemadaman listrik sebenarnya sudah sering dialami masyarakat Pekanbaru dan Riau pada umumnya. Selama ini, krisis listrik di Riau masih terjadi karena masih interkoneksi dengan kelistrikan Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Namun sejak 1 Juli lalu, Dirut PLN Dahlan Iskan berjanji bahwa tidak ada lagi byar pet yang terjadi termasuk di Riau.
"Kalau ada mati listrik, itu mungkin karena ada pemeliharaan. Apalagi untuk Riau, musim hujannya tahun ini datang lebih cepat. Jadi musim kemarau tahun ini listrik Riau dibantu Tuhan untuk terhindar dari krisis," kata Dahlan.
Selain karena diuntungkan musim, kata Dahlan, krisis listrik di Riau mulai dapat teratasi karena beberapa transfer listrik dari pembangkit seperti dari Pangkalan Susu sebesar 400 MW dan Labuhan Angin sebesar 230 MW.
"Kalau ada yang bertanya, kapan daftar tunggu listrik atau krisis di Riau dapat teratasi, saya perkirakan sekitar 2 tahun lagi. Paling cepat 1,5 tahun lagi. Beberapa pembangkit dan solusi yang kita siapkan mudah-mudahan dapat bekerja dengan baik. Paling tidak, kemarau tahun ini Riau bisa selamat dari krisis," katanya. (afz/jpnn)