ANWAR FATONI
MENANGIS - Suasana haru terlihat saat para volunteer dari Korea harus pulang setelah 10 hari berada di Kalibalik Banyuputih. Tampak siswa menangis saat perpisahan.
*Volunteer Pelajar Korea Mengabdi di Desa Kalibalik Banyuputih Batang
Kepedulian terhadap dunia pendidikan bagi anak-anak Indonesia ternyata juga dilakukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Dejavato Foundation, yang berpusat di Semarang. Terus, apa yang mereka lakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia?
DEJAVATO Foundation Indonesia merupakan salah satu organisasi non pemerintah yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, perdamaian dunia, solidaritas antar negara serta menghormati adat budaya negara lain. Dengan kegiatan yang dilakukan melalui sistem kerelawanan.
Didirikan pada tanggal 15 Juni 2005 Dejavato Foundation merupakan salah satu organisasi yang berkembang dengan sangat pesat sehingga dalam kurun waktu yang singkat sudah mampu berpartisipasi dalam kancah internasional. Dejavato Foundation sering menjadi pintu masuknya sukarelawan asing ke Indonesia dengan berbagai kegiatan.
Seperti yang dilakukan 17 relawan dari Korea di Desa Kalibalik Kecamatan Banyuputih Kabupaten Batang. Para relawan yang terdiri dari para pelajar setingkat SMP, SMA dan mahasiswa tersebut, datang untuk memberikan pendidikan berbahasa Inggris bagi siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) setempat.
Mereka datang pada tanggal 17 Juli yang lalu, atas kerjasama Dejavato Foundation Semarang, yang bekerjasama dengan International Workcamp Organization (IWO) Korea. Mereka memiliki tugas seperti halanya yang dilakukan para relawan, maupun mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pemberantasan Buta Aksara (PBA) di Indonesia.
Nailina, perwakilan Dejavato Foundation mengatakan, para relawan tersebut berada di Kalibalik selama 10 hari. Tugas utama mereka adalah memberikan pelajaran Bahasa Inggris saat pagi hari di MIN Kalibalik. Namun pada sore harinya mereka juga memiliki kegiatan lain, termasuk bersosialisasi dengan masyarakat setempat.
"Keberadaan kami dan juga para relawan ini adalah untuk mengembangkan dan membantu pendidikan Indonesia, seperti halnya pendidikan para siswa MI ini. Jadi yang mereka lakukan di sini kalau pagi mengajar Bahasa Inggris dan sore harinya mengecat, termasuk membuat papan nama sekolah," katanya.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menggiatkan penggunaan Bahasa Inggris di kalangan pelajar dan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di daerah. Dengan harapan agar suatu waktu mereka dapat cakap berbahasa Inggris, utamanya saat kedatangan turis maupun volunteer asing.
Nailina mengakui, dalam pelaksanaan kegiatan tersebut sedikit ada kendala, yakni perbedaan budaya antara di Kalibalik dengan Korea. Namun hal itu bukan menjadi halangan, karena telah disediakan penterjemah yang berasal dari IWO maupun Dejavato Foundation. Dari IWO menterjemahkan Bahasa Inggris ke Bahasa Korea, sementara Dejavato Foundationdari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.
Setelah 10 hari berada di Kalibalik, Senin (26/7) kemarin, waktunya para volunteer tersebut pulang ke negara mereka. Meski ada kendala bahasa yang dialami para volunteer dan siswa siswi MIN Kalibalik, namun keharuan tidak dapat menutupi perpisahan mereka. Mereka larut dalam kesedihan dan tangis, meski hanya berkumpul kurang dari dua minggu.
Bahkan kendala bahasa tidak menyurutkan siswa-siswi MIN Kalibalik untuk berinteraksi dengan para volunteer tersebut. Itu terlihat dari kegiatan mereka di halaman MIN Kalibalik, sebelum acara perpisahan berlangsung.
Kim Neuree, Ketua Rombongan dari IWO menyampaikan rasa terima kasihnya atas penerimaan yang diberikan oleh masyarakat, terutama oleh kepala sekolah dan guru-guru di MIN Kalibalik. Sebagai acara perpisahan digelar Farwell Party Batang Bilateral Workcamp Indonesia-Korea, dengan menampilkan peragaan busana dan budaya Korea.
Di sisi lain, Abdul Rozak, salah satu guru MIN Kalibalik, mewakili kepala sekolah, menyambut baik dengan kegiatan tersebut. Dia berharap dengan kegiatan tersebut nantinya akan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia pada umumnya, dan juga di MIN Kalibalik pada khususnya.
"Dengan adanya kegiatan ini kami berharap nantinya kemampuan berbahasa Inggris anak didik kami, setidaknya dapat menyamai anak didik di sekolah-sekolah di kota maupun sekolah negeri. Dengan peningkatan mutu pendidikan juga nantinya akan menghapus anggapan bahwa madrasah adalah sekolah pinggiran," kata Abdul Rozak. (*)