
ARIFIN
DIGERUS - Jembatan Sasak di Desa Ponolawen yang hancur setelah digerus arus Sungai kaligosek hari Sabtu kemarin
*) Penghubung Dusun Petir dan Dusun Ponolawen Kidul
KESESI - Jembatan sasak di Desa Ponolawen Kecamatan Kesesi, yang menghubungkan antara Dusun Petir dan Dusun Ponolawen Kidul, Sabtu (6/2) sekitar pukul 17.30 WIB hancur setelah digerus arus Sungai Kaligosek dan hanya menyisakan sisa-sisa kayu dan bambu di sebelah selatan dan utaranya.
Kades Ponolawen, Kundoyo saat ditemui Radar di lokasi jembatan yang hancur, Minggu (7/2) mengatakan bahwa jembatan yang dibuat pada tahun 2008 kemarin dan menelan biaya Rp 29 juta itu, sebelum hancur seperti sekarang ini tiap harinya menjadi jalan pintas dari dua dusun, yaitu Dusun Petir dan Dusun Ponolawen Kidul.
Namun setelah hancur diterjang arus sungai yang besar seperti itu, menurut Kundoyo, warga desa yang biasa melewati jembatan itu harus mencari jalan alternatif lain, yang tentu saja lebih jauh.
Seperti pantauan Radar, terlihat Jembatan Sasak yang panjangnya sekitar 48 meter itu tinggal menyisakan bambu dan kayu yang di beberapa bagian masih ada. Informasi yang didapatkan bahwa lebar Sungai Kaligosek itu sekitar 30 meter, sementara kedalamannya sekitar 10 meter.
Pada saat kejadian, karena hujan deras luapan air sungai, hingga menenggelamkan sekaligus menggerus Jembatan Sasak itu. Akibatnya, warga desa dan siswa sekolah yang tiap harinya melewati jembatan untuk beraktivitas, dipastikan harus mencari jalan lain yang lebih jauh untuk mencapai tempat tujuan mereka.
"Tiap harinya banyak yang melewati, karena selain untuk berlalu lalang juga di sebelah selatan itu kan ada SMP 3, mungkin hari Senin besok mereka harus cari jalan lain untuk ke sana," ucapnya.
Kundoyo menambahkan jika Jembatan Sasak itu dulunya dibangun atas inisiatif warga Dusun Petir dan pihak SMPN 3 Kesesi, tujuannya agar perjalanan para siswa yang mau masuk dan pulang sekolah lebih dekat dan tidak menyita waktu. Karena jika melewati Jembatan Ponolawen yang berada di sebelah timur desa, maka dipastikan para siswa akan menempuh waktu lebih lama untuk sampai ke sekolah.
"Salah satu tujuannya memang seperti itu, makanya dibangun Jembatan Sasak itu atas inisiatif dan swadaya dari warga sendiri," jelasnya.
Kadus Petir, Castro yang ditemui Radar mengatakan bahwa Jembatan Sasak harus secepatnya dibangun lagi karena banyak warga dan siswa sekolah yang tiap hari melewatinya. Oleh karenanya, menurut Castro, pihak desa harus segera melaporkannya ke kecamatan, dan selanjutnya Pemkab Pekalongan dapat langsung menerjunkan petugas untuk membangun Jembatan Sasak itu.
"Kalau cepat dilaporkan, saya kira akan cepat dibangun lagi, dan warga di sini sudah sangat mengharapkannya," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Komite Sekolah SMPN 3 Kesesi, Iriantono yang saat itu ada di lokasi Jembatan Sasak, mengatakan bahwa untuk saat ini, beberapa siswa yang tempat tinggalnya berdekatan dengan Jembatan Sasak yang sudah hancur itu, mungkin sudah mengetahui, dan nanti hari Senin saat mulai sekolah mereka akan langsung mencari jalan alternatif lain.
"Yang saya khawatirkan, para siswa yang belum mengetahuinya, mereka kan nanti hari Senin masuk sekolah dan belum tahu kalau jembatannya sudah hancur seperti itu. Mungkin nanti saya koordinasikan dengan pak kades, untuk memberi tanda peringatan atau pemberitahuan, agar siswa yang belum tahu langsung dapat mencari jalan lain, soalnya kan kurang lebih 300 siswa di SMP 3 itu," ungkapnya.
Iriantono juga mengharapkan agar Jembatan Sasak itu segera dapat diperbaiki, dengan demikian para warga dan siswa dapat melewatinya lagi.
Camat Kesesi, Edy Sutanto saat dihubungi Radar, mengatakan bahwa dirinya sudah mengetahui kalau Jembatan Sasak di Desa Ponolawen telah hancur diterjang arus Sungai Kaligosek. Selanjutnya, seperti yang dikatakan Edi Sutanto, dirinya akan leporkannya kepada Bupati Pekalongan untuk ditindaklanjuti.
"Oke mas, saya sudah mendapatkan laporannya dari kades, selanjutnya akan segera dilaporkan kejadian ini ke bupati agar segera dapat ditindaklanjuti," ucapnya. (ap4)