*) Hanya Anggota Polisi Terlibat Disel
SLAWI - Hingga kini, sejumlah pelaku bentrokan yang melibatkan wartawan, polisi, kades, kontraktor, maupun orang yang mengaku sebagai pengacara yang terjadi di lokalisasi Peleman Desa Sidoarjo Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal, pada Kamis (4/2) malam, oleh petugas sektor setempat yang menanganinya, belum melakukan penahanan. Mereka dilepas setelah diperiksa hingga pagi.
Hanya saja anggota polisi dari Polsek Dukuhwaru Bripka Prayit, yang ikut terlibat sejak kemarin sudah disel di ruang tahanan Provos Polres Tegal. Sedangkan dua orang asal Brebes yang terlibat dalam bentrok tersebut serta mengaku sebagai pengacara dan anggota kepolisian dari Polda Jateng juga ternyata hanya mengaku-ngaku saja. Namun mereka pun belum ditahan.
''Sampai dengan Minggu (7/2) kemarin, kami memang belum melakukan penahanan terhadap para pelaku. Sebab, dalam kasus bentrok yang terjadi di lokalisasi Peleman, masih kami lakukan pengembangan dan penyelidikan lebihlanjut,'' terang Kapolsek Suradadi AKP Sechroni, kemarin.
Menurutnya, nama tersangka yang belum muncul dan belum ditahan lantaran sampai dengan sekarang pihaknya bersama dengan jajarannya masih terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Termasuk, mereka yang terlibat dalam bentrok di lokalisasi Peleman, masih dimintai keterangan sebagai saksi.
''Sedangkan untuk identitas dari dua orang yang diketahui dari Brebes diantaranya Basori Saefudin yang mengaku sebagai pengacara dan Agus yang mengaku sebagai angota polisi dari Kesatuan Polda Jateng, ternyata juga hanya mengaku-ngaku saja. Sedangkan mereka mengaku sebagai anggota dan pengacara itu, lantaran sudah terpengaruhi oleh alkohol. Namun demikian, keduanya juga masih terus kami lakukan penyelidikan lebihlanjut apa motif dalam membawa-bawa nama dua lembaga tersebut. Keduanya juga belum kami tahan,'' jelas Sechroni.
Terpisah Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Tegal AKP Rudi Wihartana, menambahkan bahwa anggota yang terlibat dalam bentrok di lokalisasi Peleman yakni Bripka Prayit sejak kasusnya ditangani oleh polsek Suradadi, langsung diamankan dan ditahan di Provos. ''Untuk kasus tersebut, yang menangani polsek. Hanya saja, kami memang membeck up dan terus melakukan pemantauan,'' pungkasnya.
Sementara sejumlah pengacara asal Brebes, menegaskan bahwa kalau memang ada pengacara yang terlibat dalam aksi bentrok di lokalisasi Peleman, maka mereka akan ikut melakukan tindakan. Namun jika tidak, para pengacara Brebes juga siap melakukan langkah-langkah guna menjerat oknum yang hanya mengaku-ngaku saja. Sebab, perbuatanya sudah mencoreng nama pengacara.
Berita sebelumnya, di lokalisasi Peleman Desa Sidoarjo Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal, sekitar pukul 22.00 Kamis (4/2) malam, mendadak mencekam setelah terjadi kericuhan berupa adu jotos yang melibatkan tiga kelompok, yaitu rombongan dari Pekalongan, polisi dari Polsek Dukuhwaru, dan kelompok Brebes.
Rombongan dari Pekalongan diperkirakan sekitar 8 orang, terdiri dari wartawan mingguan, kontraktor, seorang kepala desa di Kecamatan Siwalan Kabupaten Pekalongan dan kawan-kawannya.
Sementara rombongan dari Brebes terdiri dari Pengacara, polisi yang mengaku dari Polda Jateng disertai teman-temannya.
Kejadian adu jotos yang melibatkan banyak profesi tersebut terjadi akibat pengaruh minuman alkohol yang membuat para pelakunya anarkis.
Anggota Polsek Dukuhwaru, Bripka Prayit, yang juga terlibat dalam bentrokan ini usai diperiksa di Puskesmas Suradadi, Jumat kemarin mengatakan, saat kejadian, dia bingung karena tiba-tiba dipukul oleh rombongan tamu yang berasal dari Pekalongan.
“Pemicunya, saya dituduh rombongan tersebut (Pekalongan) kalau isakan tangis Sri, anak buah dari Mami Maesaroh yang meminta maaf, tersebut akibat ulah saya. Padahal antara Sri dengan Maesaroh ada persoalan sendiri. Dan saya tidak tahu apa-apa,'' terang Bripka Prayit.
Bripka Prayit juga menjelaskan, selang waktu beberapa saat dihantam, dia berusaha untuk bisa membalas perbuatan tamu rombongan warga asal Pekalongan yang beberapa diantaranya berprofesi sebagai wartawan, kepala desa, dan kontraktor ini.
Sementara, Kadis, yang mengaku sebagai wartawan mingguan di wilayah Kabupaten Pekalongan sebelum diperiksa petugas Polsek Suradadi menjelaskan, saat dia sedang bernyanyi, tiba-tiba Prayit masuk dan langsung memukulnya dengan benda keras seperti batu atau botol.
“Demikian pula dengan rombongan saya, pak Edi yang dikeroyok oleh grup Prayit Cs yang terus merangsek kami hingga babak belur seperti ini,'' jelas Kadis.
Hal sama juga dibenarkan Edi. Mantan pengurus DPD Partai Golkar Kabupaten Pekalongan ini juga sempat berganti baju dan berusaha keluar dari lokalisasi Peleman guna menghindari amukan Prayit yang datang bersama dengan pasukannya.
''Akibat saya dikeroyok, kepala saya bocor dan wajah saya juga bonyok. Padahal, kejadian sebelumnya kami tidak tahu apa-apa. Sebab, saya datang ke lokalisasi hanya untuk bersenang-senang saja, dan bukan untuk mencari masalah,'' papar Edi yang kini berusia 50 tahun.
Sementara belum lama bentrok antara anggota polisi dengan pengunjung Peleman asal Pekalongan tersebut, selang beberapa menit kemudian, datang rombongan tamu asal Brebes, yang mengaku sebagai pengacara dan anggota Kepolisian dari Kesatuan Polda Jateng yang kembali membuat lokalisasi ramai.
Sebab, Sri (PSK) dan mamihnya Maesaroh yang tidak mau diajak untuk menemani berkencan, tiba-tiba dicekik oleh rombongan tamu asal Brebes tersebut. Sedangkan melihat kejadian itu, Prayit anggota pindahan dari Polwil Pekalongan itu, berusaha untuk melerainya.
Namun, lagi-lagi polisi Prayit yang berasal dari Bandung itu menjadi sasaran empuk bagi para tamu lokalisasi yang sudah terpengaruh alkohol. Bahkan, wajah dan kepala anggota polisi tersebut bocor akibat dihantam dengan botol miras.
Termasuk injakan para pemabuk yang mengaku pengacara dan anggota kepolisian Polda tersebut membuat Prayit akhirnya tak sadarkan diri lantaran tubuhnya penuh dengan luka.
''Melihat pak Prayit terus diinjak-injak, saya pun meminta tolong kepada warga. Hingga akhirnya para wanita lokalisasi akhirnya ikut mengeroyok salah satu warga Brebes, yang mengaku sebagai pengacara lantaran sebelumnya telah mencekik para wanita di sini,'' beber Maesaroh.
Menurutnya, rombongan tamu asal Brebes itu juga tak henti-hentinya terus menginjak-injak Prayit, meski warga sini sudah berteriak bahwa yang dianiaya adalah anggota polisi. Namun, pria yang bernama Agus itu malah mengaku kalau dirinya juga polisi namun dari Polda Jateng.
''Rombongan tamu asal Brebes itu akhirnya meninggalkan Prayit setelah anggota polsek Dukuhwaru pingsan dengan luka sekujur tubuh,'' ulasnya.
Sementara setelah puas menganiaya Prayit, rombongan asal Brebes tersebut berupaya kabur. Namun jajaran Polsek Suradadi yang langsung dipimpin Kapolsek AKP Sechroni langsung melakukan pengejaran.
Hingga akhirnya, para pelaku penganiaya polisi itu tertangkap saat berada di jalan raya Larangan Kramat, setelah petugas Satlantas Polres Tegal menghadangnya. Namun, meski sudah diamankan, para pelaku tindak penganiyaan tersebut nampak garang akibat terpengaruh miras.
Bahkan, Kapolsek Suradadi juga sempat perang mulut dengan para pelaku tersebut, hingga akhirnya mereka semuanya diamankan di Mapolsek. Lantaran, kasus tersebut melibatkan banyak orang, dan profesi, tindak perkara tersebut juga akhirnya ditarik ke Mapolres Tegal. (gus)